Diberdayakan oleh Blogger.

Let's dance togetger, let's peace together...

5.12.11

Hujan masih mengguyur cukup deras ketika beberapa anak naik ke atas panggung kecil yang berdiri di halaman sebuah sekolah dasar di pinggiran kota Tapaktuan, Aceh Selatan. Berpakaian adat Aceh, mereka terlihat begitu gagah dan penuh semangat. Di bawah tenda panjang tepat di depan panggung, puluhan penonton duduk menunggu tanpa menghiraukan hawa dingin atau tanah becek yang mengotori kaki. Sementara di teras-teras bangunan kelas yang memanjang, orang-orang berjubel, penuh antusias mengarahkan pandangannya ke panggung atau sekedar mengobrol satu sama lain. Malam itu, halaman Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Air Pinang, kecamatan Tapaktuan, Aceh Selatan ramai dan semarak dengan atraksi kesenian seperti tarian, lagu atau pembacaan puisi.


Dari busana yang dikenakan anak-anak itu, saya membayangkan akan menyaksikan sebuah pertunjukan tari Aceh dengan iringan musiknya yang khas dan rancak. Ingatanku kembali ke masa-masa ketika masih tinggal dan bekerja di Aceh, di mana tari aceh bisa kusaksikan di berbagai acara warga seperti kenduri atau acara-acara resmi yang digelar oleh pemerintah setempat. Tari aceh yang penuh semangat –selain kopinya yang enak dan masyarakatnya yang bersahaja- adalah beberapa kenangan yang tak mudah hilang setelah beberapa bulan lamanya tidak lagi tinggal di Aceh.

Tapi saya kecele. Bukan tarian Bungong Jeumpa atau Ranub Lampuan yang kulihat di atas panggung. Sebaliknya, anak-anak itu menari –tepatnya berjoget- diiringi musik disko berirama menghentak. Tidak tanggung-tanggung, mereka lincah menggerakkan badan mengikuti musik disko sebuah lagu pop terkenal Let’s Dance Together karya seorang musisi kenamaan negeri ini, Melly Goeslaw. Lagu ini populer dinyanyikan oleh kelompok vokal yang pernah menjadi idola remaja Indonesia, B3 (Bukan Bintang Biasa). Para penikmat berita hiburan atau gosip pasti mengenal salah satu anggota kelompok vokal tersebut, yang terkenal lantaran berpacaran dengan penyanyi bertubuh mungil yang usianya jauh lebih tua. Anda mengenalnya?

let’s dance together//
get on the dance floor//
the party won’t start//if you stand still like that//
let’s dance together//
let’s party and turn off the lights

Begitulah penggalan lirik lagu yang mengiringi tarian anak-anak siswa MIN Air Pinang pada malam pentas seni yang menjadi bagian dari acara Festival Perdamaian antar Sekolah Dasar di Aceh Selatan. Acara ini diselenggarakan oleh lembaga kemanusiaan Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia, lembaga tempat saya dulu pernah bekerja.selama lebih kurang empat tahun terakhir. Meski tidak lagi tinggal dan bekerja di Aceh, saya berkesempatan menyaksikan acara tersebut dalam kapastitas saya sebagai tamu undangan.

Sekolah yang berpartisipasi dalam festival perdamaian ini adalah sekolah yang didampingi JRS untuk program sekolah berbasis Pendidikan Menghidupkan Nilai (Living Values Education Program) dan pendidikan pengurangan resiko bencana. Acara yang berlangsung pada tanggal 28 - 30 Mei 2010 yang lalu ini gelar dalam rangka penutupan program pendampingan sekolah yang telah berlangsung selama lebih kurang satu tahun.

Selain malam pertunjukan kesenian yang menampilkan atraksi dari masing-masing sekolah, para guru dan siswa juga berpartisipasi dalam berbagai lomba, antara lain pertandingan beberapa cabang olahraga, lomba membaca puisi, juga lomba cerdas cermat bertema perdamaian atau bermuatan nilai (Living Values), serta lomba simulasi pengajaran di kelas yang berbasis nilai. Yang juga menarik, acara ini dimeriahkan dengan pameran poster bertema damai dan benda-benda kerajinan daur ulang ramah lingkungan hasil kreatifitas anak-anak dan guru sekolah dampingan JRS.

“Acara ini membuat persahabatan antar sekolah menjadi lebih akrab. Tidak sekedar meriah, tetapi juga ada nilai kebersamaan dan kerjasama” begitu pendapat ibu Nirwaida, guru MIN Air Pinang.

Nilai, itu kata kunci yang menjadi nafas dari festival dan keseluruhan program pendampingan JRS untuk sekolah-sekolah di Tapaktuan, Aceh Selatan. Bertahun-tahun konflik kekerasan di Aceh telah mengubur nilai-nilai keadaban dan kearifan lokal yang ada di masyarakat. Kebahagiaan, kerjasama, saling menghargai, dan nilai positif lainnya hilang ketika warga dipaksa berhadapan pada situasi di mana kekerasan menjadi cara untuk menyelesaikan setiap persoalan. Secara tidak langsung, warga, termasuk anak-anak, ‘belajar’ dari situasi tersebut.

Melalui program Pendidikan Menghidupkan Nilai di Sekolah, seluruh anggota komunitas sekolah, guru, siswa, kepala sekolah dan masyarakat sekitar bersama-sama menemukan kembali nilai-nilai positif dan kearifan hidup yang ada pada lingkungan dan masyarakat melalui berbagai kegiatan, termasuk dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi institusi yang mengajarkan pengetahuan dan keterampilan kepada anak didik, tetapi juga menjadi ruang untuk menggali nilai-nilai positif untuk mendukung tumbuhnya budaya perdamaian.

Bukan suatu kebetulan jika anak-anak MIN Air Pinang menampilkan pertunjukan tari dengan musik disko, sesuatu yang tidak biasa dalam acara resmi. Bertahun-tahun lamanya kekerasan telah merampas nilai kebebasan sebagai salah satu hak dasar manusia, dalam hal ini bebas dari rasa takut, menyampaikan pendapat, mencari nafkah atau memenuhi kebutuhan hidup, serta kebebasan dalam menjalankan ritual keagamaan serta berkreasi dalam aktifitas kesenian dan kebudayaan.

Konflik kekerasan telah melemahkan daya imajinasi dan energi kreatif warga Aceh. Lalu ketika perdamaian mulai tumbuh, warga Aceh baik orang dewasa maupun anak-anak menemukan kembali ruang untuk menyalurkan ekspresi dan kreatifitas melalui banyak media seperti kesenian, olahraga atau media lainnya. Surau dan masjid kembali ramai, kesenian lokal kembali menggeliat, lapangan olah raga mulai penuh dengan anak-anak muda dan warga perlahan mulai bisa mendapatkan kembali akses informasi atau hiburan lewat banyak media. Daya imajinasi dan energi kreatif warga Aceh yang dulu tersumbat pada akhirnya tumpah dan menemukan bentuk-bentuk baru serta kreatifitas-kreatifitas yang lebih segar dan bermakna.

Kreatifitas warga Aceh dalam aktifitas kesenian atau kebudayaan dimungkinkan terjadi ketika ada keterbukaan. Dalam keterbukaan, terjadi perjumpaan dengan berbagai kebiasaan, adat, maupun kebudayaan dari masyarakat lain, disamping adanya kebebasan untuk mendapatkan akses terhadap informasi. Sejarah mencatat Aceh pernah menjadi pusat peradaban nusantara dan menjadi pintu masuk berbagai macam kebudayaan dari luar, jauh sebelum senjata dan kekerasan mengubah wajah Aceh yang damai dan beradab menjadi lekat dengan teror dan kekerasan.

Tarian disko anak-anak MIN Air Pinang dalam konteks tertentu adalah bukti sederhana bahwa sejak dulu masyarakat Aceh adalah masyarakat yang terbuka dalam menerima sesuatu yang baru dan berbeda, dalam arti positif tentunya. Meminjam istilah Karl Popper, masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang terbuka (open society). Keterbukaan adalah syarat sekaligus pertanda tumbuh berkembangnya suatu masyarakat menjadi dewasa dan beradab, karena keterbukaan mensyaratkan adanya pengakuan dan kerendahan hati untuk mau belajar dan berdampingan dengan yang lain, liyan (other), entah itu budaya, orang atau keyakinan tertentu.

Tarian disko anak-anak MIN Air Pinang, poster-poster karya yang bertema optimisme dan semangat untuk hidup dalam damai, serta kegembiraan guru, siswa dan semua orang yang terlibat dalam festival perdamaian ini juga merupakan bukti nyata bahwa masyarakat Aceh adalah masyarakat yang terbuka serta memiliki semangat untuk terus menerus menempatkan harmoni dan kedamaian di atas segala sekat perbedaan. Tidak ada tempat lagi untuk kekerasan, karena kekerasan menghilangkan ruang untuk berkreasi dan membangun peradaban. Perbedaan tidak dipertentangkan, tetapi rahmat Tuhan yang harus disyukuri sekaligus dijadikan bekal untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik menurut potensi dan latar belakang masing-masing.

Sekali lagi bukan suatu kebetulan jika lagu Let’s Dance Together dijadikan pilihan anak-anak MIN Air Pinang sebagai seruan bagi warga Aceh khususnya untuk membuka lembar baru kehidupan dengan penuh kegembiraan, menatap masa depan yang damai penuh dengan nilai. Bagi saya, lagu Let’s dance together adalah satu tarikan nafas dengan ajakan let’s peace together..Semoga.


Read more...

Let's dance together, let's peace together

17.10.10

Hujan masih mengguyur cukup deras ketika beberapa anak naik ke atas panggung kecil yang berdiri di halaman sebuah sekolah dasar di pinggiran kota Tapaktuan, Aceh Selatan. Berpakaian adat Aceh, mereka terlihat begitu gagah dan penuh semangat. Di bawah tenda panjang tepat di depan panggung, puluhan penonton duduk menunggu tanpa menghiraukan hawa dingin atau tanah becek yang mengotori kaki. Sementara di teras-teras bangunan kelas yang memanjang, orang-orang berjubel, penuh antusias mengarahkan pandangannya ke panggung atau sekedar mengobrol satu sama lain. Malam itu, halaman Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Air Pinang, kecamatan Tapaktuan, Aceh Selatan ramai dan semarak dengan atraksi kesenian seperti tarian, lagu atau pembacaan puisi.

Dari busana yang dikenakan anak-anak itu, saya membayangkan akan menyaksikan sebuah pertunjukan tari Aceh dengan iringan musiknya yang khas dan rancak. Ingatanku kembali ke masa-masa ketika masih tinggal dan bekerja di Aceh, di mana tari aceh bisa kusaksikan di berbagai acara warga seperti kenduri atau acara-acara resmi yang digelar oleh pemerintah setempat. Tari aceh yang penuh semangat –selain kopinya yang enak dan masyarakatnya yang bersahaja- adalah beberapa kenangan yang tak mudah hilang setelah beberapa bulan lamanya tidak lagi tinggal di Aceh.

Tapi saya kecele. Bukan tarian Bungong Jeumpa atau Ranub Lampuan yang kulihat di atas panggung. Sebaliknya, anak-anak itu menari –tepatnya berjoget- diiringi musik disko berirama menghentak. Tidak tanggung-tanggung, mereka lincah menggerakkan badan mengikuti musik disko sebuah lagu pop terkenal Let’s Dance Together karya seorang musisi kenamaan negeri ini, Melly Goeslaw. Lagu ini populer dinyanyikan oleh kelompok vokal yang pernah menjadi idola remaja Indonesia, B3 (Bukan Bintang Biasa). Para penikmat berita hiburan atau gosip pasti mengenal salah satu anggota kelompok vokal tersebut, yang terkenal lantaran berpacaran dengan penyanyi bertubuh mungil yang usianya jauh lebih tua. Anda mengenalnya?

let’s dance together//get on the dance floor
//the party won’t start//if you stand still like that
//let’s dance together//
let’s party and turn off the lights


Begitulah penggalan lirik lagu yang mengiringi tarian anak-anak siswa MIN Air Pinang pada malam pentas seni yang menjadi bagian dari acara Festival Perdamaian antar Sekolah Dasar di Aceh Selatan. Acara ini diselenggarakan oleh lembaga kemanusiaan Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia, lembaga tempat saya dulu pernah bekerja.selama lebih kurang empat tahun terakhir. Meski tidak lagi tinggal dan bekerja di Aceh, saya berkesempatan menyaksikan acara tersebut dalam kapastitas saya sebagai tamu undangan.

Sekolah yang berpartisipasi dalam festival perdamaian ini adalah sekolah yang didampingi JRS untuk program sekolah berbasis Pendidikan Menghidupkan Nilai (Living Values Education Program) dan pendidikan pengurangan resiko bencana. Acara yang berlangsung pada tanggal 28 - 30 Mei 2010 yang lalu ini gelar dalam rangka penutupan program pendampingan sekolah yang telah berlangsung selama lebih kurang satu tahun.

Selain malam pertunjukan kesenian yang menampilkan atraksi dari masing-masing sekolah, para guru dan siswa juga berpartisipasi dalam berbagai lomba, antara lain pertandingan beberapa cabang olahraga, lomba membaca puisi, juga lomba cerdas cermat bertema perdamaian atau bermuatan nilai (Living Values), serta lomba simulasi pengajaran di kelas yang berbasis nilai. Yang juga menarik, acara ini dimeriahkan dengan pameran poster bertema damai dan benda-benda kerajinan daur ulang ramah lingkungan hasil kreatifitas anak-anak dan guru sekolah dampingan JRS.

“Acara ini membuat persahabatan antar sekolah menjadi lebih akrab. Tidak sekedar meriah, tetapi juga ada nilai kebersamaan dan kerjasama” begitu pendapat ibu Nirwaida, guru MIN Air Pinang.

Nilai, itu kata kunci yang menjadi nafas dari festival dan keseluruhan program pendampingan JRS untuk sekolah-sekolah di Tapaktuan, Aceh Selatan. Bertahun-tahun konflik kekerasan di Aceh telah mengubur nilai-nilai keadaban dan kearifan lokal yang ada di masyarakat. Kebahagiaan, kerjasama, saling menghargai, dan nilai positif lainnya hilang ketika warga dipaksa berhadapan pada situasi di mana kekerasan menjadi cara untuk menyelesaikan setiap persoalan. Secara tidak langsung, warga, termasuk anak-anak, ‘belajar’ dari situasi tersebut.

Melalui program Pendidikan Menghidupkan Nilai di Sekolah, seluruh anggota komunitas sekolah, guru, siswa, kepala sekolah dan masyarakat sekitar bersama-sama menemukan kembali nilai-nilai positif dan kearifan hidup yang ada pada lingkungan dan masyarakat melalui berbagai kegiatan, termasuk dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi institusi yang mengajarkan pengetahuan dan keterampilan kepada anak didik, tetapi juga menjadi ruang untuk menggali nilai-nilai positif untuk mendukung tumbuhnya budaya perdamaian.

Bukan suatu kebetulan jika anak-anak MIN Air Pinang menampilkan pertunjukan tari dengan musik disko, sesuatu yang tidak biasa dalam acara resmi. Bertahun-tahun lamanya kekerasan telah merampas nilai kebebasan sebagai salah satu hak dasar manusia, dalam hal ini bebas dari rasa takut, menyampaikan pendapat, mencari nafkah atau memenuhi kebutuhan hidup, serta kebebasan dalam menjalankan ritual keagamaan serta berkreasi dalam aktifitas kesenian dan kebudayaan.

Konflik kekerasan telah melemahkan daya imajinasi dan energi kreatif warga Aceh. Lalu ketika perdamaian mulai tumbuh, warga Aceh baik orang dewasa maupun anak-anak menemukan kembali ruang untuk menyalurkan ekspresi dan kreatifitas melalui banyak media seperti kesenian, olahraga atau media lainnya. Surau dan masjid kembali ramai, kesenian lokal kembali menggeliat, lapangan olah raga mulai penuh dengan anak-anak muda dan warga perlahan mulai bisa mendapatkan kembali akses informasi atau hiburan lewat banyak media. Daya imajinasi dan energi kreatif warga Aceh yang dulu tersumbat pada akhirnya tumpah dan menemukan bentuk-bentuk baru serta kreatifitas-kreatifitas yang lebih segar dan bermakna.

Kreatifitas warga Aceh dalam aktifitas kesenian atau kebudayaan dimungkinkan terjadi ketika ada keterbukaan. Dalam keterbukaan, terjadi perjumpaan dengan berbagai kebiasaan, adat, maupun kebudayaan dari masyarakat lain, disamping adanya kebebasan untuk mendapatkan akses terhadap informasi. Sejarah mencatat Aceh pernah menjadi pusat peradaban nusantara dan menjadi pintu masuk berbagai macam kebudayaan dari luar, jauh sebelum senjata dan kekerasan mengubah wajah Aceh yang damai dan beradab menjadi lekat dengan teror dan kekerasan.

Tarian disko anak-anak MIN Air Pinang dalam konteks tertentu adalah bukti sederhana bahwa sejak dulu masyarakat Aceh adalah masyarakat yang terbuka dalam menerima sesuatu yang baru dan berbeda, dalam arti positif tentunya. Meminjam istilah Karl Popper, masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang terbuka (open society). Keterbukaan adalah syarat sekaligus pertanda tumbuh berkembangnya suatu masyarakat menjadi dewasa dan beradab, karena keterbukaan mensyaratkan adanya pengakuan dan kerendahan hati untuk mau belajar dan berdampingan dengan yang lain, liyan (other), entah itu budaya, orang atau keyakinan tertentu.

Tarian disko anak-anak MIN Air Pinang, poster-poster karya yang bertema optimisme dan semangat untuk hidup dalam damai, serta kegembiraan guru, siswa dan semua orang yang terlibat dalam festival perdamaian ini juga merupakan bukti nyata bahwa masyarakat Aceh adalah masyarakat yang terbuka serta memiliki semangat untuk terus menerus menempatkan harmoni dan kedamaian di atas segala sekat perbedaan. Tidak ada tempat lagi untuk kekerasan, karena kekerasan menghilangkan ruang untuk berkreasi dan membangun peradaban. Perbedaan tidak dipertentangkan, tetapi rahmat Tuhan yang harus disyukuri sekaligus dijadikan bekal untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik menurut potensi dan latar belakang masing-masing.

Sekali lagi bukan suatu kebetulan jika lagu Let’s Dance Together dijadikan pilihan anak-anak MIN Air Pinang sebagai seruan bagi warga Aceh khususnya untuk membuka lembar baru kehidupan dengan penuh kegembiraan, menatap masa depan yang damai penuh dengan nilai. Bagi saya, lagu Let’s dance together adalah satu tarikan nafas dengan ajakan let’s peace together..Semoga.

Read more...

Let's Dance Together, let's peace together...

2.7.10

Hujan masih mengguyur cukup deras ketika beberapa anak naik ke atas panggung kecil yang berdiri di halaman sebuah sekolah dasar di pinggiran kota Tapaktuan, Aceh Selatan. Berpakaian adat Aceh, mereka terlihat begitu gagah dan penuh semangat. Di bawah tenda panjang tepat di depan panggung, puluhan penonton duduk menunggu tanpa menghiraukan hawa dingin atau tanah becek yang mengotori kaki. Sementara di teras-teras bangunan kelas yang memanjang, orang-orang berjubel, penuh antusias mengarahkan pandangannya ke panggung atau sekedar mengobrol satu sama lain. Malam itu, halaman Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Air Pinang, kecamatan Tapaktuan, Aceh Selatan ramai dan semarak dengan atraksi kesenian seperti tarian, lagu atau pembacaan puisi.



Dari busana yang dikenakan anak-anak itu, saya membayangkan akan menyaksikan sebuah pertunjukan tari Aceh dengan iringan musiknya yang khas dan rancak. Ingatanku kembali ke masa-masa ketika masih tinggal dan bekerja di Aceh, di mana tari aceh bisa kusaksikan di berbagai acara warga seperti kenduri atau acara-acara resmi yang digelar oleh pemerintah setempat. Tari aceh yang penuh semangat –selain kopinya yang enak dan masyarakatnya yang bersahaja- adalah beberapa kenangan yang tak mudah hilang setelah beberapa bulan lamanya tidak lagi tinggal di Aceh.

Tapi saya kecele. Bukan tarian Bungong Jeumpa atau Ranub Lampuan yang kulihat di atas panggung. Sebaliknya, anak-anak itu menari –tepatnya berjoget- diiringi musik disko berirama menghentak. Tidak tanggung-tanggung, mereka lincah menggerakkan badan mengikuti musik disko sebuah lagu pop terkenal Let’s Dance Together karya seorang musisi kenamaan negeri ini, Melly Goeslaw. Lagu ini populer dinyanyikan oleh kelompok vokal yang pernah menjadi idola remaja Indonesia, B3 (Bukan Bintang Biasa). Para penikmat berita hiburan atau gosip pasti mengenal salah satu anggota kelompok vokal tersebut, yang terkenal lantaran berpacaran dengan penyanyi bertubuh mungil yang usianya jauh lebih tua. Anda mengenalnya?

let’s dance together//get on the dance floor
//the party won’t start//
if you stand still like that//
let’s dance together//
let’s party and turn off the lights


Begitulah penggalan lirik lagu yang mengiringi tarian anak-anak siswa MIN Air Pinang pada malam pentas seni yang menjadi bagian dari acara Festival Perdamaian antar Sekolah Dasar di Aceh Selatan. Acara ini diselenggarakan oleh lembaga kemanusiaan Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia, lembaga tempat saya dulu pernah bekerja.selama lebih kurang empat tahun terakhir. Meski tidak lagi tinggal dan bekerja di Aceh, saya berkesempatan menyaksikan acara tersebut dalam kapastitas saya sebagai tamu undangan.

Sekolah yang berpartisipasi dalam festival perdamaian ini adalah sekolah yang didampingi JRS untuk program sekolah berbasis Pendidikan Menghidupkan Nilai (Living Values Education Program) dan pendidikan pengurangan resiko bencana. Acara yang berlangsung pada tanggal 28 - 30 Mei 2010 yang lalu ini gelar dalam rangka penutupan program pendampingan sekolah yang telah berlangsung selama lebih kurang satu tahun.

Selain malam pertunjukan kesenian yang menampilkan atraksi dari masing-masing sekolah, para guru dan siswa juga berpartisipasi dalam berbagai lomba, antara lain pertandingan beberapa cabang olahraga, lomba membaca puisi, juga lomba cerdas cermat bertema perdamaian atau bermuatan nilai (Living Values), serta lomba simulasi pengajaran di kelas yang berbasis nilai. Yang juga menarik, acara ini dimeriahkan dengan pameran poster bertema damai dan benda-benda kerajinan daur ulang ramah lingkungan hasil kreatifitas anak-anak dan guru sekolah dampingan JRS.

“Acara ini membuat persahabatan antar sekolah menjadi lebih akrab. Tidak sekedar meriah, tetapi juga ada nilai kebersamaan dan kerjasama” begitu pendapat ibu Nirwaida, guru MIN Air Pinang.

Nilai, itu kata kunci yang menjadi nafas dari festival dan keseluruhan program pendampingan JRS untuk sekolah-sekolah di Tapaktuan, Aceh Selatan. Bertahun-tahun konflik kekerasan di Aceh telah mengubur nilai-nilai keadaban dan kearifan lokal yang ada di masyarakat. Kebahagiaan, kerjasama, saling menghargai, dan nilai positif lainnya hilang ketika warga dipaksa berhadapan pada situasi di mana kekerasan menjadi cara untuk menyelesaikan setiap persoalan. Secara tidak langsung, warga, termasuk anak-anak, ‘belajar’ dari situasi tersebut.

Melalui program Pendidikan Menghidupkan Nilai di Sekolah, seluruh anggota komunitas sekolah, guru, siswa, kepala sekolah dan masyarakat sekitar bersama-sama menemukan kembali nilai-nilai positif dan kearifan hidup yang ada pada lingkungan dan masyarakat melalui berbagai kegiatan, termasuk dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi institusi yang mengajarkan pengetahuan dan keterampilan kepada anak didik, tetapi juga menjadi ruang untuk menggali nilai-nilai positif untuk mendukung tumbuhnya budaya perdamaian.

Bukan suatu kebetulan jika anak-anak MIN Air Pinang menampilkan pertunjukan tari dengan musik disko, sesuatu yang tidak biasa dalam acara resmi. Bertahun-tahun lamanya kekerasan telah merampas nilai kebebasan sebagai salah satu hak dasar manusia, dalam hal ini bebas dari rasa takut, menyampaikan pendapat, mencari nafkah atau memenuhi kebutuhan hidup, serta kebebasan dalam menjalankan ritual keagamaan serta berkreasi dalam aktifitas kesenian dan kebudayaan.

Konflik kekerasan telah melemahkan daya imajinasi dan energi kreatif warga Aceh. Lalu ketika perdamaian mulai tumbuh, warga Aceh baik orang dewasa maupun anak-anak menemukan kembali ruang untuk menyalurkan ekspresi dan kreatifitas melalui banyak media seperti kesenian, olahraga atau media lainnya. Surau dan masjid kembali ramai, kesenian lokal kembali menggeliat, lapangan olah raga mulai penuh dengan anak-anak muda dan warga perlahan mulai bisa mendapatkan kembali akses informasi atau hiburan lewat banyak media. Daya imajinasi dan energi kreatif warga Aceh yang dulu tersumbat pada akhirnya tumpah dan menemukan bentuk-bentuk baru serta kreatifitas-kreatifitas yang lebih segar dan bermakna.

Kreatifitas warga Aceh dalam aktifitas kesenian atau kebudayaan dimungkinkan terjadi ketika ada keterbukaan. Dalam keterbukaan, terjadi perjumpaan dengan berbagai kebiasaan, adat, maupun kebudayaan dari masyarakat lain, disamping adanya kebebasan untuk mendapatkan akses terhadap informasi. Sejarah mencatat Aceh pernah menjadi pusat peradaban nusantara dan menjadi pintu masuk berbagai macam kebudayaan dari luar, jauh sebelum senjata dan kekerasan mengubah wajah Aceh yang damai dan beradab menjadi lekat dengan teror dan kekerasan.

Tarian disko anak-anak MIN Air Pinang dalam konteks tertentu adalah bukti sederhana bahwa sejak dulu masyarakat Aceh adalah masyarakat yang terbuka dalam menerima sesuatu yang baru dan berbeda, dalam arti positif tentunya. Meminjam istilah Karl Popper, masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang terbuka (open society). Keterbukaan adalah syarat sekaligus pertanda tumbuh berkembangnya suatu masyarakat menjadi dewasa dan beradab, karena keterbukaan mensyaratkan adanya pengakuan dan kerendahan hati untuk mau belajar dan berdampingan dengan yang lain, liyan (other), entah itu budaya, orang atau keyakinan tertentu.

Tarian disko anak-anak MIN Air Pinang, poster-poster karya yang bertema optimisme dan semangat untuk hidup dalam damai, serta kegembiraan guru, siswa dan semua orang yang terlibat dalam festival perdamaian ini juga merupakan bukti nyata bahwa masyarakat Aceh adalah masyarakat yang terbuka serta memiliki semangat untuk terus menerus menempatkan harmoni dan kedamaian di atas segala sekat perbedaan. Tidak ada tempat lagi untuk kekerasan, karena kekerasan menghilangkan ruang untuk berkreasi dan membangun peradaban. Perbedaan tidak dipertentangkan, tetapi rahmat Tuhan yang harus disyukuri sekaligus dijadikan bekal untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik menurut potensi dan latar belakang masing-masing.

Sekali lagi bukan suatu kebetulan jika lagu Let’s Dance Together dijadikan pilihan anak-anak MIN Air Pinang sebagai seruan bagi warga Aceh khususnya untuk membuka lembar baru kehidupan dengan penuh kegembiraan, menatap masa depan yang damai penuh dengan nilai. Bagi saya, lagu Let’s dance together adalah satu tarikan nafas dengan ajakan let’s peace together..Semoga.


Read more...

Bank Syariah, Bank perdamaian...

12.6.09


Seorang teman non-muslim bertanya pada saya, ”Apa yang dimaksud bank Syariah itu? Apakah saja kelebihannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut saya terima dalam konteks saya sebagai seorang muslim yang bekerja di sebuah lembaga non-muslim dengan staf yang kebanyakan memiliki latar belakang non-muslim pula. Saya pun menjawab sebisanya, sebatas bahwa bank syariah tidak mengenal konsep riba yang merugikan satu pihak dan menguntungkan pihak lain.

Secara langsung, saya belum pernah berhubungan atau menjadi nasabah bank Syariah yang banyak bermunculan akhir-akhir ini. Bahkan pada dasarnya saya adalah orang yang skeptis terhadap institusi yang memakai label tertentu di belakang namanya, apalagi label agama. Bagi saya, tidak perlulah suatu institusi atau sistem kemasyarakatan diberi label agama, dalam hal ini Islam, baik itu bank Islam, bank Syariah, sistem ekonomi Islam, negara Islam, hukum Islam dan sebagainya, karena segala nilai kebaikan pada dasarnya universal, tanpa memandang dari mana sumber rujukan atau landasannya.


Namun pandangan tersebut mulai berubah tepat setelah teman non-muslim tersebut bertanya tentang bank Syariah kepada saya, dan saya pun mulai mencari tahu informasi dan seluk beluk tentang sistem perbankan ini. Sebelumnya, pengetahuan tentang bagaimana Islam mengatur kegiatan ekonomi saya dapat dari kitab-kitab klasik di kalangan pesantren, atau yang lebih dikenal sebagai kitab kuning. Sejauh yang saya ingat, prinsip utama dalam ekonomi Islam adalah keadilan dan kesetaraan, yang tercermin dalam praktek-praktek ekonomi yang kemudian menjadi produk bank Syariah saat ini, yaitu Mudharabah, Musyarakah, Murobahah, dan Takaful. Tentu saja teks-teks kitab klasik tersebut hanya menyinggung bagaimana menjalankan prinsip-prinsip keadilan dan kesetaraan dalam sistem ekonomi yang sederhana, terutama dalam perdagangan atau jual beli hasi pertanian, dan tidak secara detail menjelaskan bagaimana prinsip-prinsip tersebut diterapkan dalam lembaga profesional dan modern, baik itu menyangkut sistem, produk maupun layanannya.

Pertanyaan teman saya yang non-muslim sekaligus membuka mata saya tentang sisi lain dari sistem perbankan Syariah, di luar sisi bisnis dan nilai profitnya. Pada tahun 2006, Nobel Perdamaian dimenangkan oleh Muhammad Yunus, seorang ekonom yang mendampingi kaum marginal di Bangladesh dengan mendirikan Grameen Bank (Bank Desa) yang diperuntukkan bagi kalangan miskin seperti pengemis, gelandangan, buruh dan kaum perempuan yang tidak memiliki akses untuk pinjaman modal usaha dari bank konvensional.

Mereka yang selama ini tidak memiliki akses kepada bank karena status sosial mereka diberi pinjaman tanpa agunan dan persyaratan apapun, selain keyakinan bahwa mereka juga bisa meningkatkan taraf hidup mereka seperti orang lain pada umumnya. Meski pada awalnya jumlah pinjaman sangat kecil, namun dengan ketekunan dan ketelatenan, dengan Grameen Bank-nya Muhammad Yunus mampu mengangkat martabat kaum marginal tersebut dari garis kemiskinan. Para pengemis dan gelandangan tidak lagi meminta-minta, bahkan bisa mandiri dengan menjadi pengusaha kecil dan bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Kini Grameen Bank bahkan memiliki aset senilai miliaran dolar Amerika dan beberapa usaha lainnya seperti telekomunikasi dengan tetap berpegang pada prinsip yang mengutamakan keberpihakannya pada kaum marginal.

Kenyataan bahwa Nobel Perdamaian diberikan kepada seorang ekonom tentu menjadi suatu fenomena menarik. Perdamaian tidak lagi dilihat dari ada atau tidaknya konflik atau perang, tapi juga dilihat dari potensi konflik atau akar masalahnya. Muhammad Yunus berpendapat bahwa akar konflik adalah ketidakadilan suatu kelompok terhadap kelompok lainnya. Dengan kata lain, perdamaian dan suasana hidup harmoni tercipta ketika dalam suatu komunitas terwujud kehidupan yang setara tanpa diskriminasi, di mana setiap orang berhak terhadap akses sosial ekonomi tanpa dilihat latar belakang mereka.

Apa yang dilakukan Muhammad Yunus di Bangladesh pada dasarnya memiliki konteks yang sama dengan realitas di Indonesia. Indonesia adalah negara yang terdiri dari beragam latar belakang, baik itu suku, ras, budaya dan terutama agama. Dan realitasnya, kemiskinan masih menjadi problem utama bangsa ini. Dalam konteks agama, jika melihat ke dalam internal umat Islam di Indonesia, meski umat mayoritas namun sebagian besar juga hidup di desa-desa yang miskin dan tertinggal. Problem yang sama juga dihadapi oleh umat agama lain yang tinggal di kantong-kantong tertentu. Sedikit gesekan akan memicu timbulnya konflik kekerasan, dan selama ini realitas keberagaman agama sering dipakai untuk mengobarkan kebencian demi kepentingan suatu kelompok tertentu.

Jika sepakat dengan Muhammad Yunus, kemiskinan sejatinya bisa menjadi pemicu bara konflik. Ini juga sejalan dengan temuan bahwa beberapa konflik kekerasan yang pernah terjadi di Indonesia salah satunya akibat kesenjangan ekonomi, dan bukan karena sentimen agama. Imam Sayyidina Ali sendiri mengatakan bahwa ”jika kemiskinan itu berwujud manusia, akulah yang pertama kali akan membunuhnya”, yang menandakan bahwa kemiskinan adalah musuh bersama yang harus diperangi karena bisa berujung pada berbagai masalah dan penyakit sosial seperti kriminalitas atau kekerasan massal.

Disinilah sebenarnya peluang dari Bank Syariah sebagai institusi keuangan yang memakai rujukan dari hukum Islam untuk bisa memainkan perannya dalam membangun relasi dan kerjasama antar umat beragama sehingga bisa menciptakan budaya perdamaian di tingkatan akar rumput. Tidak hanya berorientasi profit, namun kemiskinan menjadi agenda prioritas, bagaimana mewujudkan kesejahteraan berdasar prinsip kesetaraan dan keadilan yang ditekankan dalam Islam.

Respon masyarakat yang besar, tidak hanya dari umat Islam, tetapi juga umat agama lain tidak hanya harus disikapi sebagai peluang bisnis, tetapi menjadi pintu masuk untuk proses dialog agama yang bertujuan untuk menggali nilai kebaikan dari agama masing-masing. Hasil dari proses dialog inilah yang kemudian dijabarkan dalam rencana kerja bersama dengan agenda utama pemberantasan kemiskinan.

Satu hal yang bisa dilakukan adalah bank Syariah harus berani menjemput bola, dengan masuk ke kantong-kantong daerah miskin, wilayah-wilayah yang diyakini mempunyai potensi konflik yang tinggi karena bertemunya berbagai macam latar belakang masyarakat yang berbeda, atau wilayah-wilayah yang pernah mempunyai sejarah konflik kekerasan berlatar belakang agama atau sosial, dengan membuka akses seluas-luasnya kepada masyarakat lapisan terbawah masyarakat untuk memperbaiki kualitas hidupnya tanpa melihat latar belakang status sosial mereka.

Agar tidak menimbulkan prasangka karena label agama yang melekat, bank Syariah harus menggandeng berbagai kelompok atau organisasi agama lain, bersama-sama merumuskan kerja-kerja pengentasan kemiskinan, baik itu melalui sektor ekonomi langsung seperti kredit tanpa agunan atau bagi hasil, membangkitkan usaha kecil dan koperasi seperti kerajinan khas daerah, usaha perikanan dan pertanian. Bank Syariah juga bisa mempelopori pelatihan dan pendidikan kepada kelompok-kelompok marginal untuk menjadi wiraswastawan (entrepreuner) yang terampil, atau merangkul dan memberdayakan kaum perempuan dan kaum difabel, memberi beasiswa kepada anak usia sekolah, atau program sosial yang bermanfaat untuk masyarakat lainnya (Corporate Social Responsibility).

Dengan program-program sosial tersebut, kegiatan perbankan syariah tidak semata dimaknai sebagai kegiatan ekonomi yang berlandaskan nilai-nilai Islam semata, melainkan juga ibadah demi mewujudkan apa prinsip bermanfaat bagi sesama (rahmatan lil alamin). Dalam konteks perdamaian, selain mencegah konflik kekerasan dari akarnya, yaitu ketidakadilan dan kemiskinan, langkah ini sekaligus bisa membangun citra positif Islam sebagai agama yang ramah, damai dan toleran setelah beberapa waktu sebelumnya Islam diberi label sebagai agama yang penuh kekerasan, baik di dunia internasional pasca tragedi 9/11 September maupun dalam konteks nasional dengan banyaknya organisasi-organisasi berlabel Islam yang menghalalkan kekerasan dalam mencapai tujuannya.

Kini bank syariah tidak lagi dianggap bank kelas dua, terlebih setelah berbagai lembaga keuangan skala internasional dan multinasional juga mulai membidik pasar ini. Label syariah yang melekat pada lembaga ini juga tidak menyurutkan minat kalangan non-muslim untuk menikmati layanan yang disediakan. Dengan slogan pencitraan ”lebih dari sekedar bank” (beyond banking), yakni perbankan yang menyediakan produk dan jasa keuangan yang lebih beragam serta didukung oleh skema keuangan yang lebih bervariasi, tentu bank Syariah juga bisa berbuat lebih dalam menyejahterakan masyarakat di lapisan bawah tanpa membedakan latar belakangnya, sesuai dengan nilai keadilan dan kesetaraan yang menjadi prinsip utama dalam ajaran Islam, bersama-sama dengan umat agama lain atau golongan lain di masyarakat menghapuskan kemiskinan dan kesenjangan sebagai sumber segala persoalan sosial, sehingga bangsa Indonesia bisa hidup berdampingan dalam suasana damai.

Tapaktuan, 11 Juni 2009

Read more...

Quote of the day

  © Blogger template Writer's Blog by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP