Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Rembang 1 : Gus itu….

6.8.08

Sebuah siang yang panas di bulan Maret tahun 2003. Setelah dihempas selama beberapa jam dalam bis yang penuh sesak tanpa AC dari Semarang menuju Rembang, kami terhuyung-huyung keluar, tepat di depan pasar yang terletak di sebuah sudut persimpangan jalan yang menghubungkan Rembang dengan Tuban. Tujuan pertama kami adalah sebuah warung, tempat kami mengisi perut dengan sepiring nasi pecel dan es teh. Beberapa lelaki berkulit legam nampak asyik mengolesi batang rokok dengan ampas kopi. Di meja tempat kami makan, terlihat puluhan batang rokok yang sudah diolesi ampas kopi berjejer rapi.

Kepada salah seorang dari lelaki pengoles rokok tersebut, kami menanyakan alamat yang akan kami tuju. Berbekal informasi yang ada, kami lalu berjalan melewati jalan kampung yang teduh penuh rimbun pepohonan tua, sembari sesekali membicarakan sosok yang akan kami temui. Seorang kiai muda yang namanya cukup terkenal di wilayah Rembang. Setelah berjalan beberapa saat, lamat-lamat terdengar suara yang berasal dari pengeras suara. Suara seseorang yang sedang memberikan pengajian dengan menggunakan metode khas pesantren, yaitu membaca kitab dalam bahasa Arab dan menerjemahkan kata per kata atau kalimat per kalimat. Di sebuah gang sempit yang membawa kami menuju sumber suara, kami melewati barisan orang-orang yang rata-rata sudah berusia sepuh yang dengan khusyu’ menyimak kitab kuning sambil bersimpuh di emperan setiap deretan rumah. Kami bertanya sekali lagi, untuk kemudian dipersilahkan masuk ke sebuah ruangan.

Setelah menunggu beberapa saat, keluarlah seseorang berusia sekitar 30-an, berbadan sedikit gempal dengan wajah yang terlihat teduh dan ramah. Mengenakan baju koko yang nampak longgar dan kopiah putih, senyumnya mengembang menyambut kami. Setelah berkenalan, kami menyampaikan maksud, yaitu mahasiswa yang sedang mengadakan penelitian tentang tradisi keagamaan lokal dan bermaksud mencari tumpangan selama beberapa hari. Dengan halus, Gus muda tersebut meminta maaf karena tidak bisa membantu karena sampai saat ini pondoknya hanya untuk santri laki-laki dan tidak bisa menampung seorang perempuan –istri saya saat ini. Setelah itu kami terlibat obrolan hangat seputar penelitian, asal dan hal-hal lainnya. Sebuah sambutan yang tulus, meski belakangan kami menyadari telah menghentikan sejenak kesibukan sang Gus memberikan pengajian kepada santri-santrinya dengan pengeras suara tadi.

Pada awalnya, kami hanya tahu sedikit informasi tentang sosok kiai muda tersebut. Menurut seorang tokoh masyarakat Rembang yang memberikan informasi pada kami sebelumnya, Gus ini adalah seorang kiai muda yang cerdas, kharismatik, tapi sederhana. Banyak politisi dan orang-orang berpengaruh datang kepadanya untuk kepentingan politik tertentu, namun kiai muda ini menampiknya. Ia hanya berkonsentrasi mengurusi pesantren peninggalan almarhum ayahnya yang juga salah seorang kiai besar di Rembang, sambil berkhidmat menemani ibunya yang sudah sepuh. Konon Gus ini punya ilmu laduni, ilmu hikmah yang dipercaya orang Islam hanya dikuasai oleh orang-orang tertentu karena kedekatannya dengan Allah.

Saya masih mengingat betul suatu siang di bulan Maret 2003 itu. Penolakan sang Gus terhadap tujuan awal kunjungan kami sedikitpun tidak menimbulkan rasa kecewa, bahkan sebaliknya kami merasa mendapat begitu banyak hikmah berharga –baik moral maupun spiritual- dari obrolan kami dengan Gus muda yang sederhana tersebut. Keramahan dan kehangatannya saat menyambut kami yang notabene “orang asing” benar-benar menunjukkan sikap seorang yang berilmu tinggi namun tetap rendah hati dan terbuka

Dan saat ini, di hari-hari gaduh menjelang pesta demokrasi, saya kembali teringat sosok dan senyum ramah sang Gus muda. Hari-hari di mana begitu banyak pembesar di negeri ini yang merasa paling pintar, saling berpacu mendeklarasikan dirinya sebagai yang terpilih dan paling layak memimpin, tapi sesungguhnya jejak rekam yang dimilikinya jauh dari kualitas seorang pemimpin. Pepatah Jawa bilang rumongso iso ning ora iso rumongso, atau orang yang merasa bisa tapi tidak bisa merasa atau berefleksi apakah dia pantas atau tidak. Sebaliknya, Gus muda tadi adalah cermin pemimpin yang meski punya pengaruh, pintar dan begitu dihormati oleh orang banyak tetapi justru menghindar dari popularitas, dan lebih memilih mengabdi dalam ‘’kesunyian’’ dan kerendahhatian. Sosok pemimpin yang menyediakan tenaga, pikiran dan waktunya untuk orang-orang yang membutuhkan sesuai dengan kemampuannya. Sosok yang senantiasa dicintai bukan karena polesan citra, tapi kerja nyata, bukan mereka yang merengek-rengek dan menjual harga dirinya hanya untuk meraup nominal suara demi mencapai kursi kekuasaan.

Teringat Gus muda di sebuah pesantren di Rembang, saya sungguh merasa bersyukur bahwa di tengah hingar-bingar iklan pemmpin yang pamer kepintaran dan kekayaan, masih ada sosok panutan yang mengabdikan dirinya untuk masyarakat dengan penuh keikhlasan dan kerendahhatian.



Read more...

“Muslim Semangka" Yang Semakin Langka

19.3.08


Haji Misbach, salah seorang tokoh Sarekat Islam (SI) Surakarta yang kemudian bergabung dengan PKI tahun 1923 dikenal sebagai seorang muslim yang taat sekaligus seorang komunis yang militan. Haji Misbach mengatakan menjadi seorang komunis bukan berarti atheis dan bahkan sebaliknya seorang muslim sejati seharusnya meyakini ajaran-ajaran komunisme. Dia meyakini adanya kesesuaian antara Islam dengan komunisme, seperti pengakuan kesamaan hak manusia dan adanya perintah Allah dalam Al Quran untuk berjuang melawan penindasan. Teman saya menjuluki Haji Misbach sebagai “muslim semangka”, sebagaimana buah semangka yang kulit luarnya berwarna hijau sementara isinya berwarna merah.

Berangkat dari keyakinannya tersebut Haji Misbach kemudian dikenal sebagai tokoh Islam yang begitu peduli pada problem-problem sosial dan gigih menentang kekuatan modal (kapitalisme) yang menindas rakyat kecil yang pada saat itu direpresentasikan oleh perkebunan dan pabrik-pabrik milik swasta dan pemerintah Hindia Belanda. Misbach terjun langsung dalam membela para petani dan buruh untuk menuntut upah yang layak, menentang kerja paksa serta menuntut penghapusan pajak pemerintah Hindia Belanda dan penguasa lokal yang dinilai memberatkan mereka.


Takashi Shiraisi dalam Zaman Bergerak (1990) menuliskan bahwa yang menjadi titik tekan Misbach dalam menjelaskan ciri kapitalisme adalah ketamakan. Cita-cita kaum kapitalis adalah untuk terus menerus mendapat keuntungan tanpa mau rugi sedikitpun. Dalam artikelnya Islam dan Komunisme di surat kabar Medan Muslimin yang terbit 1924 -1925, Misbach juga meyakini kapitalisme yang bersifat menindas telah menyebabkan kemiskinan di masyarakat dan kemiskinan itulah yang menyebabkan tindak kriminalitas seperti penipuan, pencurian, perampokan dan bahkan bisa membuat seorang perempuan menjual kehormatannya dan menjadi -dalam istilah sekarang- seorang pekerja seks komersial.

Selain aktif di organisasi, Haji Misbach juga menerbitkan surat kabar, mendirikan toko buku dan sekolah-sekolah modern, serta terkenal dengan tablig-tablignya yang menentang keras perilaku hidup boros dan bermewah-mewah, tidak terkecuali yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Islam lainnya. Dalam pergaulan ia dikenal sebagai orang yang sangat ramah dan egaliter karena tidak pernah membedakan priyayi atau orang kebanyakan. Ia juga lebih suka mengenakan kain kepala ala Jawa ketimbang peci atau serban seperti kebanyakan haji zaman itu.

Sosok ulama lainnya yang sezaman dengan Haji Misbach dan mempunyai gagasan yang sama tentang Islam sebagai agama yang peduli pada kaum mustadhafin (lemah, tertindas) adalah HOS Cokroaminoto. Berbeda dengan Haji Misbach yang terang-terangan menyatakan diri sebagai seorang komunis, Cokroaminoto cenderung menolak marxisme dan berpendapat bahwa pada dasarnya Islam yang dibawa Nabi Muhammad sudah mengajarkan sosialisme tanpa harus mengadopsi gagasan Karl Marx.

Dalam bukunya Islam dan Sosialisme, Cokroaminoto menyatakan bahwa menghisap keringatnya orang-orang yang bekerja, memakan hasil pekerjaan lain orang, tidak memberikan bagian keuntungan yang semestinya menjadi milik orang yang turut bekerja mengeluarkan keuntungan adalah perbuatan yang dilarang keras oleh agama Islam karena termasuk perbuatan riba. Dalam hal ini memakan riba dalam Islam memiliki konteks yang sama dengan memakan keuntungan nilai lebih (meerwaarde) dalam pemikiran Karl Marx.

Sejarah mencatat kedua tokoh tersebut tidak hanya sebagai sosok ulama, melainkan juga tokoh pergerakan Islam. Artinya mereka tidak sekedar menegakkan doktrin-doktrin Islam secara kaku dan statis, melainkan menggerakkan Islam dalam arti terus-menerus menerjemahkan dan mengkontekstualisasikan doktrin-doktrin tersebut dengan realitas empiris sehingga mampu menjawab berbagai tantangan dan perubahan sosial yang terus terjadi di masyarakat.

Islam sebagai Agama Pembebasan

Pemikiran Haji Misbach dan HOS Cokroaminoto tentang Islam sebagai agama yang menentang penindasan dan ketidakadilan sesungguhnya bukan penafsiran baru terhadap ajaran Islam. Malah sebenarnya keduanya berusaha menghadirkan cara pandang dan penghayatan Islam sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad untuk kemudian mengkontekstualisasikannya dengan kondisi sosial pada zaman mereka.

Pada masa awal pewahyuan Islam, Muhammad menyerukan prinsip egalitarianisme untuk melawan dominasi kaum bangsawan yang memonopoli sistem ekonomi dan jalur perdagangan di Mekkah yang menyebabkan kesenjangan ekonomi dan ketidakadilan sosial. Dalam konteks inilah Islam menentang kapitalisme, yaitu penumpukan kekayaan dan akumulasi modal yang berpotensi menimbulkan kesenjangan sosial.

Islam pada dasarnya adalah agama pembebasan bagi kaum lemah dan tertindas sebagaimana jelas disebutkan dalam Al Quran bahwa Allah berkehendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas (mustadhafin atau dhuafa) di bumi dan menjadikan mereka pemimpin dan orang-orang yang mewarisi bumi (QS Al Qashash: 5-6).

Sebaliknya Islam mencita-citakan terwujudnya masyarakat anti kelas yang dalam Al Quran disebut sebagai masyarakat Tauhid atau umat yang satu (QS Al Mukminun:52). Doktrin Tauhid atau keesaan Allah yang menjadi inti ajaran Islam ini selain dipahami sebagai pengakuan atas Allah sebagai Tuhan yang satu, juga merupakan doktrin untuk tidak menyekutukan Allah dengan hal-hal lainnya seperti harta, status, dan kekuasaan. Dalam konteks sosial, masyarakat Tauhid adalah masyarakat anti diskriminasi yang tidak membeda-bedakan status ekonomi, kekuasaan, ras, etnis karena semua manusia sama di mata Allah.

Al Qur'an juga menyatakan bahwa kondisi suatu kaum tergantung kepada perubahan yang dilakukan oleh kaum itu sendiri (QS Al Ra'du ayat 11). Terminologi “kaum” tidak hanya merujuk pada satu kelompok anggota masyarakat, tetapi seluruh anggota masyarakat, baik itu rakyat, pemimpin, pedagang, cendekiawan dan sebagainya. Dalam konteks di mana terdapat suatu struktur ekonomi atau politik yang menindas masyarakat, nasib kaum mustadhafin (tertindas dan miskin) tidak akan berubah jika mereka sendiri tidak berjuang melepaskan diri dari penindasaan yang dilakukan oleh kaum mustakbirin (tiran, penguasa, orang kaya). Sebaliknya juga para pemimpin harus menyadari kewajibannya yaitu memenuhi hak-hak rakyatnya dan orang kaya harus ikut berperan dalam menyelesaikan problem kemiskinan di masyarakat. Dan kondisi itu hanya bisa terwujud akibat proses penyadaran yang salah satunya menjadi tugas dan tanggung jawab sosial ulama.

Sayangnya, saat ini Islam seolah menjadi agama yang gagal dalam mentransformasikan dimensi sosialnya. Banyak ulama atau tokoh Islam yang muncul, tetapi hanya segelintir yang menjadi aktor penggerak kesadaran akan Islam sebagai agama yang menentang segala bentuk penindasan dan ketidakadilan. Semakin sedikit ulama yang konsisten membela hak-hak rakyat dan berada di garis depan perjuangan dalam menyelesaikan problem-problem sosial umatnya dengan resiko “hidup sederhana” atau tidak dikenal karena bekerja “di balik layar” popularitas dan kekuasaan.

Sebaliknya para ulama atau tokoh Islam sibuk mengajarkan kepada umatnya penghayatan Islam yang menekankan aspek ritual, ajakan meningkatkan kesalehan pribadi demi mencapai kebahagiaan spiritual belaka. Sebagian dari mereka menjadikan agama sebagai komoditas yang bisa dijual demi keuntungan pribadi atau hidup bermewah-mewah sementara mayoritas rakyat Indonesia yang juga mayoritas beragama Islam masih hidup dalam jerat kemiskinan dan kebodohan.

Padahal “musuh” yang dihadapi oleh Nabi Muhammad pada awal pewahyuan Islam atau yang dihadapi para tokoh pergerakan Islam seperti Haji Misbach dan HOS Cokroaminoto pada masa kolonial Belanda sesungguhnya sama dengan kondisi yang dihadapi oleh tokoh Islam di Indonesia saat ini; dominasi kekuatan modal tanpa batas yang mengakibatkan ketimpangan sosial ekonomi, rezim yang mengabaikan hak-hak rakyat dan menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan pribadi, serta perilaku orang kaya yang menumpuk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cara memeras tenaga dan hak milik orang lain.

Tantangan ulama dan tokoh Islam di Indonesia saat ini adalah menjadikan doktrin-doktrin kemanusiaan dalam Islam sebagai spirit penggerak dan pembangkit kesadaran untuk menjawab dinamika dan perubahan sosial yang cenderung menciptakan penindasan dan ketidakadilan sosial. Mereka juga harus terjun langsung dalam menyelesaikan berbagai problem sosial yang dialami rakyat kecil seperti kemiskinan, tingginya angka buta huruf, ledakan jumlah pengangguran, rendahnya tingkat pendidikan, perdagangan anak, diskriminasi terhadap kelompok rentan dan problem sosial lainnya.

Ketimbang sibuk mengurusi isu-isu formal seperti cita-cita mendirikan pemerintahan Islam, tuntutan penerapan syariat, fatwa halal-haramnya makanan minuman atau tenggelam dalam kenikmatan popularitas dunia dakwah dan hiburan, sudah saatnya berbagai problem-problem sosial yang real dialami rakyat kecil menjadi pemicu kesadaran tokoh-tokoh Islam untuk melakukan kerja-kerja praksis bersama. Jika kesadaran itu tidak terwujud, maka “muslim semangka” akan menjadi sosok yang semakin langka dan cita-cita Islam sebagai agama pembebasan hanya tinggal utopia belaka.

Read more...

Perkenalkan : Kiai Selebriti…

23.2.08

Beberapa waktu yang lalu, bertepatan dengan peringatan tahun baru Islam, seorang dai muda yang sedang ngetop tampil menjadi bintang tamu dalam sebuah acara infotainment -lebih tepatnya acara gosip selebriti- di salah satu stasiun televisi swasta. Sang dai muda berbincang-bincang dengan dua orang artis pembawa acara yang memakai busana seadanya, menerangkan makna hari besar Islam sambil sesekali menyitir ayat suci. Ironisnya, sang dai hanya muncul sekilas, lalu setelah itu dua artis tadi pun kembali bergosip seputar perselingkuhan, kawin cerai dan hal-hal remeh lainnya.

Ada rasa prihatin yang muncul saat melihat acara itu. Keprihatinan yang bermuara pada semakin seringnya agama dijadikan sebagai pemanis hal-hal yang profan dan cenderung dikomersialisasikan. Jika bukan melalui pertarungan simbol-simbol dalam perebutan kekuasaan, agama diubah menjadi “primadona baru” dalam hingar bingar industri hiburan.

Saya menyebut sang dai muda tersebut sebagai kiai selebriti. Ada dua alasan mengapa saya memakai istilah tersebut. Pertama, mereka adalah kiai yang muncul di tengah kemajuan teknologi informasi dan dengan cepat menjadi idola dan figur (panutan?) baru di masyarakat. Mereka yang semula hanya dikenal dan berpengaruh di lingkungan sekitarnya, tiba-tiba menjadi sedemikian terkenal ke luar komunitas dan masyarakatnya karena memanfaatkan (atau dimanfaaatkan oleh) teknologi informasi.

Kedua, istilah kiai selebriti ditujukan kepada mereka yang hanya mengambil spesialisasi berdakwah di kalangan selebriti, baik artis atau pesohor lainnya. Mereka kemudian berperilaku dan bergaya hidup sebagaimana selebriti dengan alasan mempromosikan agama dan mengangkat citra agama itu sendiri. Pada tahun 1990-an, kita pernah mengenal istilah kiai BMW, kiai Pajero dan julukan lain yang mengasosiasikan bahwa kiai kini tidak lagi identik dengan sarung dan kopiah lusuh.

Fenomena kiai selebriti mulai muncul ketika industri hiburan –terutama di televisi- mulai melakukan ekspansi ke dalam ranah agama. Lalu agama pun lebur menjadi sebuah komoditi, “dijual” dalam acara-acara ceramah yang menonjolkan tangis dan ajakan untuk pencapaian keuntungan spiritual pribadi. Momen-momen keagamaan seperti Ramadhan, Lebaran dan Natal yang sakral pun diubah menjadi hiburan atau momen untuk menjual produk tertentu. Belum lagi maraknya tayangan sinetron mistik dengan kemasan agama demi keuntungan rating dan iklan belaka.

Jauh sebelum kiai selebriti muncul, ada juga jenis kiai birokrat. Munculnya kiai jenis ini sudah setua usia agama itu sendiri. Dengan otoritas keagamaan dan pengaruhnya, mereka berselingkuh dengan penguasa kepentingan pribadi, meringkuk dengan nyaman dalam jaring-jaring kekuasaan. Kiai jenis ini hanya menjadi corong pembenar kebijakan penguasa, lebih sibuk mengawasi sah tidaknya ibadah seseorang tetapi gagal berperan dalam problem-problem yang menyangkut kemaslahatan umat seperti penyelewengan kekuasaan dan kemiskinan.

Tentu tidak ada yang salah ketika ada kiai tampil di televisi dengan dandanan necis dan gaul atau ketika ada kiai yang hobi keluar masuk istana dengan memakai jas berlogo partai. Kesalahan terbesar dari para kiai adalah dengan ilmu yang mereka miliki hanya mengurusi ruang privat agama dan melupakan dimensi sosialnya. Mereka menganggap tugas mereka selesai setelah mengajarkan tata cara wudlu, syarat sahnya sholat atau bagaimana cara mendapat pahala ibadah sebanyak-banyaknya tetapi mengabaikan nasib umat mereka yang dihimpit kesulitan hidup.

Nabi dan kitab suci mengajarkan bahwa misi utama agama adalah sebagai spirit yang menggerakkan kesadaran dan tindakan umatnya untuk mewujudkan nilai-nilai luhur kemanusiaan seperti solidaritas, kesetaraan, anti diskriminasi dan keadilan sosial. Orang-orang yang dipercaya Tuhan untuk menyampaikan ajaran-ajaran-Nya adalah mereka yang sangat mengagungkan nilai-nilai luhur kemanusiaan itu sendiri. Nabi Muhammad adalah nabi yang peduli pada kaum lemah (mustadhafin). Spirit perjuangannya berasal dari refleksi atas kondisi masyarakat Arab yang saat itu lebih mengutamakan harta dan kekuasaan tetapi mengabaikan prinsip solidaritas dan kesetaraan. Isa dikenal karena cinta kasihnya kepada orang yang lemah dan tertindas dan Sidharta Gautama berkelana dalam perjalanan spiritualnya karena tidak tahan hidup mewah di istana sementara rakyatnya sendiri banyak yang menderita.

Setelah para nabi dan orang suci tidak ada, tugas dan peran mereka diwariskan kepada orang-orang yang mempunyai kemampuan intelektual dan spiritual yang istimewa di banding kaum awam, dalam hal ini adalah kiai, pendeta, romo, biksu, dan sebagainya. Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad menegaskan bahwa ulama adalah “pewaris nabi”, yang berarti tugas dan peran Nabi sebagai pemimpin agama sekaligus pemimpin masyarakat sudah seharusnya melekat pada diri seorang ulama.

Jadi jika tugas kenabian yang dijadikan patokan, seorang ulama atau kiai tidak hanya bertanggungjawab untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama, tetapi sekaligus harus berperan aktif dalam mengatasi problem-problem sosial yang dihadapi oleh umat seperti kemiskinan, pengangguran, kriminalitas dan korupsi. Kerja-kerja kemanusiaan tersebut pada hakekatnya adalah untuk mengangkat derajat manusia dari lembah kehinaan menuju derajat kemuliaan. Kemuliaan disini bukan hanya dalam konteks spiritual yang bisa dicapai melalui ritual ibadah seperti sholat, zakat dan puasa, tetapi juga juga dalam konteks sosial di mana seseorang bisa hidup layak sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia.

Dan kita tahu, di negeri ini yang sebagian besar penduduknya hidup dalam kantong kemiskinan ini adalah negeri dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Artinya, ada kegagalan dari pihak pemimpin agama untuk menyelesaikan problem sosial yang dihadapi oleh umatnya sendiri. Mereka yang menyandang predikat kiai, ulama atau dai gagal mentransformasikan misi kemanusiaan agama dalam tugas dakwah mereka, dan justru sebaliknya menutup mata dan hati mereka terhadap berbagai problem sosial tersebut.

Nyatanya, saat rakyat kecil menjerit karena kesulitan hidup, para pemimpin umat tersebut terang-terangan mengambil keuntungan dari status “kiai” mereka. Saat negara sudah hampir ambruk karena ulah para penguasa yang menyeleweng, mereka malah ikut berebut menikmati kue kekuasaan. Ada yang pintar memodifikasi agama menjadi seremoni di istana. Ada yang mempromosikan agama menjadi (sekedar) ilmu pengusir setan di televisi-televisi. Ada juga yang lihai menguras air mata umatnya dalam pelatihan-pelatihan spiritual di hotel-hotel berbintang, atau menikmati popularitas mereka sebagai seorang selebriti seperti sang dai muda dalam ilustrasi di awal tulisan ini.

Padahal di kampung-kampung kumuh di kota-kota besar atau di daerah-daerah terbelakang yang tak terjangkau pembangunan, jutaan orang-orang kecil dan lemah susah payah untuk sekedar hidup layak. Baru-baru ini, seorang penjual gorengan mati bunuh diri karena tidak kuat menanggung beban ekonomi yang semakin tinggi. Kita juga masih ingat kasus Supriyono, seorang pemulung di Jakarta berpenghasilan 10.000 per hari yang harus membawa jenazah anak perempuannya dengan gerobak karena tidak mampu membayar sewa mobil jenazah, setelah sebelumnya juga tidak mampu membiayai pengobatan sakit muntaber anaknya tersebut sampai akhirnya meninggal. Inilah yang menurut seorang intelektual muda NU Zuhairi Misrawi, sebuah situasi di mana kaum agamawan gagal membangun etika sosial, yaitu etika yang memberi perhatian kepada mereka yang lemah dan dilemahkan sebagai akibat dari terlalu seringnya agama membincangkan soal etika privat (Zuhairi Misrawi, Kompas/25/6/2005).

Tentu tidak semua kiai “berkhianat” kepada tugasnya sendiri. Masih ada kiai yang konsisten membela hak-hak rakyat dan memegang teguh keyakinan bahwa misi suci agama adalah untuk membela kaum lemah dan meninggikan martabat manusia. Kiai seperti ini mengambil jarak dengan kekuasaan karena takut kekuasaan akan memanfaatkan mereka atau sebaliknya mereka tidak ingin memanfaatkan kekuasaan demi keuntungan pribadinya. Mereka lebih percaya bahwa perubahan sosial akan tercapai dengan pendekatan kultural melalui pendidikan alternatif, penguatan ekonomi kerakyatan serta pemberdayaan masyarakat kecil dan lemah. Mereka hidup khusyu di tengah-tengah orang-orang yang menderita dan terpinggirkan, menjadi sosok berteduh terakhir bagi orang-orang yang sudah terlalu lelah didera kemelaratan dan kepahitan hidup.

Akhir cerita, kita tidak ada yang tahu siapa saja kiai yang menggunakan pengaruhnya untuk melegitimasi suatu kekuasaan atau kiai yang hanya bergaul dan berdakwah di tengah-tengah gelamornya popularitas, serta berapa banyak kiai yang hidup bersama-sama di gubuk-gubuk kumuh, melayani orang yang miskin, jauh dari hingar bingar popularitas dan kekuasaan. Yang kita tahu adalah kenyataan hanya segelintir orang yang hidup mewah dan korup ditengah semakin membengkaknya jumlah orang miskin kesulitan membeli tempe dan antri minyak tanah, anak-anak yang menderita gizi buruk dan putus sekolah, mereka-mereka yang menderita karena dilemahkan dan dikalahkan oleh kekuasaan.



Read more...

Quote of the day

  © Blogger template Writer's Blog by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP